Selasa, 14 April 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metodologi merupakan hal yang sangat penting dalam Pendidikan Agama Islam ( PAI ). Metode adalah suatu cara mengajar, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semakin baik metode yang digunakan, maka akan semakin efektif dan efisien pula pencapaian tujuannya. Dalam metode mangajar, faktor guru, siswa, bahan yang akan diajarkan, situasi, sarana, prasarana, serta fasilitas-fasilitas lainnya sangat besar pengaruhnya.
Dengan banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam penggunaan suatu metode, maka sebenarnya cukup sulit bagi seorang guru untuk menetapkan metode yang paling baik dan harus dipakai di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar pembelajaran tersebut berhasil. Dan metode Quantum Teaching merupakan salah satu metode yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran agama ( PAI ).
Oleh karena itu di dalam dunia pendidikan perlu adanya model belajar yang baru berupa Quantum Teaching Learning dengan tujuan agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai.Berlatar belakang pernyataan di atas, maka penulis makalah ini kami beri judul " Quantum Teaching Learning"
B. Rumusan masalah
1.    Bagaimana pengertian Quantum TeachingLearning ?
2.    Bagaimana azas Quantum TeachingLearning ?
3.    Bagaimana tujuan metode Quantum TeachingLearning ?
4.    Bagaimana konsep metode Quantum TeachingLearning ?
5.    Bagaimana implementasi Quantum Teaching Learning pada pambelajaran PAI ?

C. Tujuan Makalah
1.    Untuk mengetahui pengertian Quantum Teaching Learning.
2.    Untuk mengetahui azas Quantum Teaching Learning.
3.    Untuk mengetahui tujuan Quantum Teaching Learning.
4.    Untuk mengetahui konsep metode Quantum Teaching Learning.
5.    Untuk mengetahui implementasi Quantum Teaching Learning pada pambelajaran PAI.




BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Quantum TeachingLearning
Quantum Teaching berasal dari kata Quantum yang berarti interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya. Sedangkan Quantum teaching itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu orkestrasi bermacam – macam interaksi yang ada didalam dan sekitar momen belajar.Interaksi – interaksi ini mencakup unsur – unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi – interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Sehingga Quantum Teaching ini mempraktekkan Quantum Learning dalam kelas mencakup petunjuk spesifik untuk mencipatakan lingkungan belajar efektif merancang kurikulum menyampaikan isi memudahkan proses belajar di manapun dan apapun segala yang bersifat menyenangkan, enjoy, santai, dan meriah. Jadi belajar tidak harus di dalam kelas dan penataan yang khusus dan monoton, namun dimanapun tempatnya dan bagaimanapun  formasinya, asalkan itu bisa menyenagkan dan bisa memberikan motivasi pada guru maupun peserta didik, itulah yang dinamakan Quantum Teaching.[1]
Pengertian Quantum Teaching menurut beberapa ahli :
1.        Bobby De Porter yaitu: Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar,  lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.[2]
Quantum Teaching menjadikan segala sesuatu berarti dalam proses belajar mengajar, setiap kata, pikiran, tindakan asosiasi dan sampai sejauh mana mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran.
2.        Colin Rose juga berpendapat bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa. Metode ini sarat dengan penemuan-penemuan terkini yang menimbulkan antusiasme siswa. Quantum Teaching menjadikan ruang-ruang kelas ibarat sebuah konser musik yang memadukan berbagai instrumen sehingga tercipta komposisi yang menggerakkan dari keberagaman tersebut. Sebagai guru yang akan mempengaruhi kehidupan murid, anda seolah-olah memimpin konser saat berada di ruang kelas.
B. Azas Quantum TeachingLearning
Azas Quantum Teaching adalah “ Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita, Dan Antarkan Dunia Kita Ke Dunia Mereka “. Maksudnya adalah guru harus bisa memasuki dunia murid sebagai langkah awalnya. Caranya adalah dengan mengaitkan apa yang guru ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi, atau akademis. Selain kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa muridnya ke dalam dunia guru, dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu, maka kosa kata baru, model mental, rumus dan lain-lain dapat dibeberkan. Dengan pengertian dan pemahaman yang lebih luas, siswa dapat membawa apa yang mereka (murid) pelajari ke dalam dunia mereka.[3]
Jadi menurut kelompok kami, Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang harus dipelajari siswa, tetapi siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
B. Tujuan Quantum Teaching Learning
Adapun tujuan Quantum Teaching adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.Terdapat perbedaan antara tujuan dan prioritas.Tujuan merupakan hasil akhir yang ingin diraih. Sedangkan prioritas merupakan tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam mencapai tujuan. Menciptakan suasana yang dinamis dalam belajar, dengan memadukan berbagai unsur-unsurnya serta melakukan penggubahan, merupakan tahapan-tahapan untuk mencapai ilmu pengetahuan yang luas sebagai tujuan.
  1. Prinsip Quantum Teaching
  2. Model Quantum Teaching
Adapun prinsip Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
1)   Segalanya berbicara 
Segalanya mulai dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas hingga rancangan pelajaran guru, semuanya mengirim pesan tentang belajar
2)   Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam penggubahan kita, mempunyai tujuan. Oleh karena itu, Kathy Wagone membuat istilah yang memotivasi: “tetapkanlah sasaran tersebut agar bisa berprestasi setiap harinya”.
3)   Pengalaman Sebelum dan Pemberian Nama
Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses yang paling baik terjadi ketika siswa telah mendapatkan informasi sebelum memperoleh kesimpulan dari apa yang mereka pelajari.
4)   Akui Setiap Usaha
Belajar mengandung resiko.Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan.Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.Seperti kata Noelle C. Nelson bahwa pujian atau penghargaan kepada seseorang atas karyanya memunculkan suatu energi yang membangkitkan emosi positif.
5)   Jika Layak Dipelajari, Layak Pula Dirayakan
Perayaan adalah sarapan para pelajar juara.Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan minat dalam belajar.Sehubungan dengan itu, Dryden berpesan bahwa ingatlah selalu untuk merayakan setiap keberhasilan.
 Adapun Model Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
Model Quantum Teaching dianalogikan dengan sebuah simfoni, yang mana ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman music. Dalam quantum teaching, unsur-unsur itu dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
1) Tahap Pertama (Konteks)
Yang dimaksud dengan tahap pertama atau konteks yaitu tahap persiapan sebelum terjadinya interaksi di dalam kelas. Berhubungan dengan konteks, ada empat aspek yang harus dipersiapkan:
a) Suasana, termasuk di dalamnya keadaan kelas, bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap terhadap sekolah dan belajar.
b) Landasan, yaitu kerangka kerja: tujuan, keyakinan, kesepakatan, prosedur, dan aturan bersama yang menjadi pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.
c) Lingkungan, yaitu cara menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, dan semua hal yang mendukung proses belajar.
d) Rancangan, yaitu penciptaan terarah unsur-unsur penting yang menimbulkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar menukar informasi.
2) Tahap Kedua (Isi)
Tahap kedua isi merupakan tahap pelaksanaan interaksi belajar, hal-hal yang berhubungan dengan bagian ini adalah:
a)  Presentasi, yaitu penyajian pelajaran dengan berdasarkan prinsip-prinsip Quantum Teaching sehingga siswa mereka dapat mengetahui banyak hal dari apa yang dipelajari. Tahap ini juga diistilahkan pemberian petunjuk, yang bermodalkan dengan penampilan, bunyi dan rasa berbeda.
b)  Fasilitas, yaitu proses untuk memadukan setiap bakat-bakat siswa dengan kurikulum yang dipelajari, dengan kata lain bagian ini menekankan bagaimana keahlian seorang pengajar sebagai pemberi petunjuk, langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk mengakomodasi karakter siswa.
c)  Keterampilan Belajar, yaitu bagian yang mengajarkan bagaimana trik-trik dalam belajar yang tentu berdasarkan pada prinsip-prinsip Quantum Teaching, sehingga para siswa memahami banyak hal, meskipun dalam waktu yang singkat.
d) Keterampilan Hidup, bagian ini mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan efektif dengan orang lain sehingga terbina kebersamaan dalam hidup. Keterampilan hidup diistilahkan juga keterampilan sosial.[4]
D. Konsep Quantum Teaching Learning
Quantum Teaching merupakan konsep yang diturunkan dari Quantum Learning yang mempunyai motto membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Dari konsep Quantum Learning yang akan diterapkan dalam dunia bisnis, maka dibuatlah Quantum Bisnis, begitu pula konsep Quantum Learning yang akan diterapkan dalam interaksi belajar mengajar, maka dirancanglah konsep Quantum Teaching.
Quantum Teaching merupakan sebuah strategi untuk mempraktekkan Quantum learning di ruang-ruang kelas, berusaha memberikan kiat-kiat, petunjuk, dan seluruh proses yang dapat menghemat  waktu, mempertajam pemahaman dan daya ingat, membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.[5]
Berdasarkan tujuan dari proses belajar mengajar, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa untuk dapat mendapatkan wawasan yang luas, pembentukan sikap dan memberikan keterampilan, konsep Quantum Teaching  inilah langkah atau strategi yang komprehensif untuk meraih tujuan tersebut. Sedangkan kerangka rancangan belajar quantum teaching dikenal dengan istilah TANDUR, yaitu :
1.      Tumbuhkan, menumbuhkan minat dengan memuaskan “apakah manfaat bagiku” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.
2.      Alami, menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
3.      Namai, menyediakn kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai sebuah masukan.
4.      Demonstrasikan, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
5.      Ulangi, menunjukan pelajar cara- cara mengulang materi dan menegaskan bahwa “aku tahu bahwa aku memang tahu”
6.      Rayakan, pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan ketrampilandan ilmu pengetahuan.[6]
Dari konsep belajar mengajar dalam Quantum Teaching tersebut, ada empat ciri sebagai berikut :
1.    Adanya Unsur Demokrasi dalam Pengajaran.
Hal ini terlihat bahwa dalam Quantum Teaching terdapat unsur kesempatan yang luas kepada seluruh siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam tahapan-tahapan kajian terhadap suatu mata pelajaran.
2.    Sebagai akibat dari ciri yang pertama, maka memungkinkan tergali dan terekspresikan seluruh potensi dan bakat yang terdapat pada diri si anak.
3. Adanya kepuasan pada diri si anak. Hal ini terlihat dari adanya pengakuan terhadap temuan dan kemampuan yang ditunjukkan oleh si anak, sehingga secara proporsional.
4. Adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu ketrampilan yang diajarkan. Hal ini terlihat dari adanya pengulangan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai si anak.
5. Adanya unsur kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan yang dihasilkan si anak, dalam bentuk konsep, teori, model, dan sebagainya pada situasi baru.[7]
E.Implementasi Quantum Teaching pada Pembelajaran PAI
Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ranah afektif dan ranah psikomotorik bisa dikatakan lebih dominan dibanding ranah kognitifnya.Beranjak dari asumsi ini pengajaran PAI di sekolah umum semestinya memberikan porsi lebih banyak kepada penggunaan model dan strategi pembelajaran yang lebih mengarah kepada pencapaian aspek afektif dan psikomotorik, namun tetap tidak boleh mengabaikan aspek kognitif.Jika demikian halnya, maka penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran PAI kiranya dapat diaplikasikan. Adapun langkah-langkah pengajaran PAI sesuai dengan prinsip dan model Quantum Teaching.[8]
1)   Menata Nilai
Guru harus memiliki niat yang kuat bahwa apa yang dilakukannya hanya semata untuk beribadah kepada Allah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara melalui pendidikan dan menyiapkan generasi penerus bangsa yang baik dan berkualitas. Membekali siswa dengan nilai-nilai agama yang diharapkan bisa menjadi nilai spiritual mereka dalam seala aktivitasnya.Yang tak kalah penting dalam konteks ini adalah positive thinking bahwa setiap siswa memiliki kemampuan dan motivasi untuk belajar.Dengan modal keyakinan ini, guru berusaha sebisa mungkin memaksimalkan potensi yang dimiliki siswa untuk kepentingan pembelajaran.
2. Menata Kelas
Guru harus mampu menata ruang kelas sedemikian rupa sehingga siswa merasa tidak bosan berada dalam kelas dalam waktu yang lama. Jika ruang kelas dikelola dengan baik, maka akan memberikan manfaat dan peran besar untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Di antara contoh penataan itu yaitu mengatur posisi bangku, memberi aksesoris, menempelkan hasil karya siswa di dinding kelas, menempelkan kata-kata motivasi yang bisa diambil dari Al-Qur’an, hadits, perkataan sahabat Rasul atau para ulama, dan lain-lain. Berikut ini beberapa contoh penataan bangku yang disesuaikan dengan kondisi siswa, kelas, dan materi yang diajarkan dan bisa saja dikembangkan oleh guru menjadi lebih baik:[9]
a)      Bentuk Lingkaran
Penataan model ini sangat ideal untuk diskusi kelompok besar.Dalam pembelajaran PAI formasi ini bisa dipakai guru mendemonstrasikan berbagai praktek ibadah kepada siswa, seperti ibadah sholat.
b)      Bentuk U atau setengah lingkaran
Penataan ini adalah formasi serba guna.Siswa bisa menggunakan meja untuk membaca dan menulis, dapat melihat guru dan media yang dipakai dengan mudah.Dengan formasi ini siswa dengan mudah dipasangkan, khususnya bila ada dua tempat duduk per meja.
c)      Penataan Berhadapan
Formasi ini cocok untuk lingkungan aktif khas laboratorium di mana duduk di ruang kerja untuk mengerjakan soal atau tugas.Formasi ini juga cocok untuk mendorong kemitraan dalam belajar.Dalam pembelajaran PAI, formasi ini bisa digunakan untuk pengajaran Al-Qur’an, di mana bagi siswa yang mampu mengajarkan kepada yang tidak mampu secara intensif.
d)     Proses Pembelajaran
Hal-hal berikut ini bisa diperhatikan oleh guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi: [10]
1.    Keteladanan
Dalam dunia pendidikan ada sebuah prinsip yang sangat popular “At thariqatu ahammu minal maddah, wal mu’allimu ahammu min ath thariqah” (Metode pembelajaran lebih penting dari pada materi, namun guru lebih penting dari pada metode itu sendiri).Dari prinsip ini tergambar bahwa guru mempunyai peran yang sangat vital dan sentral, terlebih lagi dalam pengajaran agama dan moral.Dan dalam Al-Qur’an yang artinya adalah dosa besar menurut Allah, jika engkau mengatakan sesuatu tetapi engkau tidak melakukannya.
Pepatah dan ayat di atas, semuanya mengacu pada keteladanan.Siswa sering tidak tertarik dalam pembelajaran karena melihat ada kontradiksi antara perkataan dan perbuatan guru. Namun ketika guru bisa memberikan keteladanan, maka akan lahir perasaan dalam diri siswa kesebangunan dan kecocokan antara yang mereka dengar dengan apa yang mereka lihat. Misalnya, ketika guru mengajarkan tentang kedisiplinan, maka guru harus menunjukkan kedisiplinannya kepada seluruh siswa.
2.    Metode Pengajaran
Guru harus mampu menggunakan metode yang beragam dan dapat mengkombinasikannya dengan baik. Intinya guru sangat diharapkan aktor yang mampu memainkan dan menyentuh berbagai gaya belajar anak, sehingga pembelajaran tidak terkesan monoton. Pembelajaran juga bisa terjadi di luar kelas, di ruang terbuka atau pergi ke tempat tertentu, sehingga para siswa tidak merasa bosan.
3.    Media Pembelajaran
Penggunaan media diharapkan agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik, pembelajar lebih aktif dan interaktif, mengurangi proses pembelajaran dengan teknik yang konvensional saja, dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahan dan proses pembelajaran. Sehingga mutu hasil pembelajaran akan meningkat. Misalnya, materi tentang ibadah haji, guru PAI dapat menggunakan gambar, foto, atau film yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji sebagai medianya.
4.    Apresiasi
Guru harus memberikan apresiasi kepada siswa terhadap hasil yang telah mereka kerjakan. Apresiasi bisa berupa materi seperti hadiah barang maupun non materi seperti kata-kata pujian, motivasi, perhatian, atau hal-hal positif lainnya.
5.    Menyusun Kesimpulan
Dalam pembelajaran dengan Quantum Teaching, menutup pelajaran tidak boleh bersifat satu arah.Di mana guru yang menyimpulkan materi, sedangkan siswa hanya mendengarkan saja.Oleh karena itu, siswa harus didorong untuk dapat menemukan kesimpulan dari materi yang disampaikan.Selanjutnya, guru memberikan penguatan atas kesimpulan yang disampaikan siswa. Seorang guru mata pelajaran PAI dapat mengajak para siswanya bermuhasabah pada akhir pembelajaran dengan cara mengaitkan materi dengan contoh kasus yang sedang berkembang.
Implementasi Quantum Teaching dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dipandang tepat sekali yang meliputi 3 langkah pengajaran PAI sesuai dengan prinsip dan model Quantum Teaching yaitu menata nilai, menata ruang kelas, danmemperhatikan proses pembelajaran. Di mana guru dapat menyampaikan materi pembelajaran di kelas secara inovatif dengan mengkombinasikan metode maupun strategi pembelajaran secara tepat sehingga siswa dapat melalui pembelajaran dengan menyenangkan dan pembelajaran dapat berjalan efektif dan efesien.







BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      Pengertian Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.
2.      Azas Quantum Teaching adalah “ Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita, Dan Antarkan Dunia Kita Ke Dunia Mereka “. Maksudnya adalah guru harus bisa memasuki dunia murid sebagai langkah awalnya.
3.      Tujuan Quantum Teaching adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
4.      Konsep quantum teaching adalah membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan.








DAFTAR PUSTAKA

Patoni Ahmad, metodologi pendidikan agama islam. Jakarta, PT. bina ilmu, 2004.
Bobby De Porter, Quantum Teaching, alih bahasa oleh Ary Nilandari (Cet. XI; Bandung: Kaifa, 2003),
Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 2004),
Harto, Kasinyo dan Abdurrahmansyah. 2011. Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning (Arah Baru Pembelajaran PAI di Sekolah dan Madrasah). Yogyakarta: Pustaka Felicha.
http : // psychemate. blogspot.com/2007/12/quantum.teaching.html.
















[1]Patoni ahmad, metodologi pendidikan agama islam. Jakarta, PT. bina ilmu, 2004. Hal 179
[2]Bobby De Porter, Quantum Teaching, alih bahasa oleh Ary Nilandari (Cet. XI; Bandung: Kaifa, 2003), hal. 3
[3]http : // psychemate. blogspot.com/2007/12/quantum.teaching.html.
[4]Patoni ahmad, metodologi pendidikan agama islam. Jakarta, PT. bina ilmu, 2004. Hal 180-181
[5] Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 77
[6].Patoni Ahmad, metodedologi pendidikan agama islam, Jakarta, PT. bina ilmu 2004. Hal 181
[7]. http : // psychemate. blogspot. com/2007/12/quantum-teaching.html
[8]Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah, Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning (Arah Baru Pembelajaran PAI di Sekolah dan Madrasah), (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2011), hlm. 167

[9]Ibid., hlm. 169.
[10]Ibid., hlm. 170